Kadar dan Sebaran Pencemaran Merkuri (Hg) Akibat Penambangan Emas Rakyat Di Lokasi Hutan Kerangas Kecamatan Mandor Kabupaten Landak

Kadar dan Sebaran Pencemaran Merkuri (Hg) Akibat Penambangan Emas Rakyat Di Lokasi Hutan Kerangas Kecamatan Mandor Kabupaten Landak

Kadar dan Sebaran Pencemaran Merkuri (Hg) Akibat Penambangan Emas Rakyat Di Lokasi Hutan Kerangas Kecamatan Mandor Kabupaten Landak – Kadar merkuri pada Lahan Bekas Penambangan Emas Umur 4-5 Tahun sebesar 0,020 ppm, pada Lahan Bekas Penambangan Emas Umur 6-10 Tahun sebesar 0,050 ppm dan pada Lahan Bekas Penambangan Emas Umur 11-15 Tahun sebesar 0,042 dengan kadar rata-rata sebesar 0,037 ppm. Rata-rata sebaran horizontal merkuri pada lokasi penelitian bekas penambangan dengan jarak 100 m dari sungai adalah 0,034 ppm, jarak 300 m dari sungai sebesar 0,041 ppm dan jarak 100 m dari sungai sebesar 0,036 ppm dengan pola sebaran yang masih bersifat lokal. Rata-rata sebaran vertikal merkuri pada lokasi penelitian bekas penambangan dengan kedalaman 19-21 cm adalah 0,040 ppm dan kedalaman 39-41 cm adalah 0,034 ppm. Rata-rata sebaran merkuri menurut persen penutupan vegetasi pada lokasi penelitian bekas penambangan dengan persen penutupan vegetasi 0-30% adalah 0,040 ppm, persen penutupan vegetasi 31-60% adalah 0,040 ppm dan persen penutupan vegetasi >61% adalah 0,031 ppm. Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh topografi terhadap kandungan merkuri di areal bekas penambangan emas rakyat kecamatan mandor. Perlu   dilakukan penelitian   tentang   besar   penyerapan   merkuri  oleh tumbuhan di areal bekas penambangan emas rakyat kecamatan mandor.

Latar Belakang

Menurut Kusmana (1995) dalam Hilwan (1996), hutan kerangas (heath forest) merupakan salah satu tipe hutan penting di Indonesia yang tumbuh di atas tanah podsol, tanah pasir kuarsa yang sarang, miskin hara dan pH rendah 3-4 (masam). Tekstur tanah kasar dan peka terhadap gangguan. Jenis vegetasi hutan kerangas memiliki ragam vegetasi yang lebih sedikit dan jarak antara satu pohon dengan pohon yang lainnya lebar.
Gangguan yang terjadi dikawasan hutan kerangas disebabkan oleh alam atau adanya kegiatan manusia (antropogenik). Gangguan yang disebabkan oleh alam misalnya banjir, tanah longsor dan lain-lain, sedangkan gangguan yang bersifat antropogenik salah satunya akibat kegiatan penambangan emas. Menurut Sampurno (1990) dalam Purba (1999), mengemukakan bahwa dampak dari kegiatan penambangan emas adalah terjadi kerusakan lingkungan sekitar. Kerusakan akibat penambangan emas dapat terjadi secara kimiawi, fisik dan biologi. Kerusakan dari segi kimiawi yang menonjol adalah adanya pencemaran tanah, air dan vegetasi oleh unsur Hg (merkuri) yang digunakan untuk melindi emas. Pencemaran tanah oleh merkuri mengakibatkan kesuburan tanah menurun yang mempengaruhi vegetasi yang tumbuh disekitarnya. Secara fisik akibat jelasnya dapat dilihat dengan kondisi daerah tambang yang berubah menjadi padang pasir atau tailing, dimana lapisan tanah bagian atas (top soil) yang subur menjadi hilang.
Dari dua jenis dampak tersebut telah menambahkan dampak berikutnya, yaitu secara biologi yang ditandai dengan hilangnya vegetasi dan asosiasi organismenya, karena tidak ada lagi interaksi sesama organisme baik mikro maupun makro dengan lingkungan.
Di kawasan hutan kerangas terdapat vegetasi yang tumbuh walaupun kawasan tersebut berada disekitar areal bekas penambangan emas yang diduga sudah tercemar merkuri. Vegetasi hutan kerangas tersebut ada yang merupakan vegetasi asli juga berupa tumbuhan pionir. Vegetasi asli merupakan vegetasi yang tumbuh sejak awal terbentuknya ekosistem hutan kerangas tersebut, sedangkan tumbuhan pionir tumbuh akibat adanya suksesi yang terjadi di kawasan hutan kerangas. Suksesi tersebut terjadi akibat adanya perubahan dalam komposisi komunitas dan asosiasi biologis serta sifat-sifat ekosistem lingkungan. Vegetasi hutan kerangas asli dan tumbuhan pionir mampu hidup dan bertahan bila suatu lahan tercemar oleh merkuri dikarenakan vegetasi tersebut bersifat toleran terhadap merkuri. Menurut Baker dan Walker (1990) dalam Chaney et al. (2000), keadaan toleran yang ditunjukan oleh vegetasi dapat ditunjukan dengan berbagai cara yang berbeda. Ada vegetasi yang mampu mengakumulasikan merkuri ke dalam jaringan tubuhnya tetapi kemudian diuapkan melalui proses transpirasi pada daun, dan ada vegetasi yang dapat mengeluarkan senyawa-senyawa penetralisir merkuri melalui jaringan akar sehingga merkuri tersebut tidak bersifat racun.
Vegetasi asli dan tumbuhan pionir yang tumbuh dikawasan hutan kerangas sekitar area penambangan emas yang diduga tercemar merkuri berpotensi sebagai fitoremediasi (Biology Clean Up).
Menurut Thomas (1995) dalam Chaney (2000), suatu cara pemulihan lingkungan yang tercemar oleh logam berat melalui penanaman vegetasi yang bersifat toleran terhadap logam berat disebut fitoremediasi. Apabila vegetasi hutan kerangas akan dimanfaatkan sebagai alat fitoremediasi maka perlu dilakukan penelitian dasar mengenai kandungan merkuri yang ada di jaringan vegetasi hutan kerangas dan kandungan merkuri yang ada didalam tanah hutan kerangas, oleh karena itu penelitian ini sangat perlu dilakukan.

Baca Juga : Yale Communication Kursus Komputer di Kubu Raya

Masalah Penelitian

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat kegiatan penambangan sudah sangat serius, termasuk di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak. Penambangan emas tanpa izin yang dilakukan oleh masyarakat telah merambah ke hutan kerangas. Menurut Kleinmann et al (1980) dalam Widyati (2004), salah satu masalah terbesar akibat kegiatan penambangan yang sangat serius adalah adanya limbah Air Asam Tambang (AAT) atau Acid Mine Drainage (AMD) yang banyak mengandung merkuri dan dapat menurunkan pH tanah secara drastis, dengan menurunnya pH akan meningkatkan kelarutan logam-logam berat termasuk merkuri yang dapat meracuni kehidupan tanaman, hewan dan mikroorganisme.
Berdasarkan pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh Badan Survey Geologi di Amerika serikat pada tahun1974 dapat diketahui konsentrasi merkuri pada lapisan tanah melalui penelitian yang telah dilakukan secara acak pada tempat dan daerah serta wilayah yang berbeda, ditemukan bahwa logam merkuri terkonsentrasi 0,1 ppm.
Jumlah tersebut bervariasi pada batas yang lebih kecil. Dari penelitian yang dilakukan terhadap perairan ditemukan konsentrasi logam merkuri dalam variasi yang sangat luas, yaitu : 65% contoh mengandung < 10-4 ppm, 15% contoh mengandung < 10-3 ppb dan 3% contoh mengandung < 5.10-3 ppm, sedangkan untuk daerah bekas penambangan emas rakyat di Kecamatan Mandor belum diketahui besarnya kadar merkuri.
Merkuri dan senyawa-senyawanya, seperti halnya dengan logam-logam yang lain, tersebar luas dialam. Mulai dari batuan, air, udara dan bahkan dalam tubuh organisme. Penyebaran dari logam merkuri ini, turut dipengaruhi oleh faktor geologi, fisika, kimia dan biologi, untuk daerah bekas penambangan emas rakyat di Kecamatan Mandor belum diketahui sebaran merkuri.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar dan sebaran pencemaran merkuri pada bekas penambangan emas rakyat di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak dan pengaruhnya pada hutan kerangas di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kadar dan Sebaran pencemaran merkuri pada hutan kerangas.

Bagi teman teman yang ingin mendapatkan skripsi ini secara full silahkan download di sini

Semoga skripsi yang saya bagikan ini dapat bermanfaat bagi teman teman semua. terima kasih (Feri Yale Zerosix)

 

 

Leave a Reply